Sore yang cerah, ibu-ibu di lorong tempat tinggalku asyik
bercengkerama di atas balai-balai. Ibuku juga ada di sana, tertawa senang.
Suara bentor sayup-sayup terdengar dari ujung depan
lorong, ibu-ibu itu serentak mengarahkan pandangannya ke ujung lorong. Menanti
dan mengawasai siapa gerangan yang ada di atas
kendaraan serupa becak tetapi dirakit dengan menambahkan sepeda motor di
bagian belakangnya itu.
Bentor semakin dekat, lajunya agak dikurangi ketika akan
melewati ibu-ibu itu. Seorang perempuan setengah baya bermata sipit, kulit putih
duduk manis di atas bentor.
“Tabe…” sapanya sembari tersenyum kepada ibu-ibu.
“iyee…silahkan Aci!” jawab ibuku sambil mengangguk balas
tersenyum. Bentor berlalu membawa penumpangnya yang dipanggil Aci’ oleh ibuku,
melewati rumah dari rumah ibuku, lalu berhenti di rumah ke-empat.
“Dg Habu, kita kenal itu orang Tionghoa tadi yang lewat?
Tanya ibu Suma
“hehehe…tidak” jawab ibuku
“kenapa kita panggilki Aci’? tanya H.Caya
“Kan dia orang Tionghoa, biasanya perempuan Tionghoa kan
dipanggil Aci” Jawab ibuku yakin
“oh iye dii..saya juga kalau belanja di toko orang Tionghoa,
saya juga panggil dia Aci “.
Sejak saat itu, Perempuan berdarah Tionghoa itu dipanggil
Aci’. Dia adalah warga baru di lorongku. Kebiasaan si Aci’ adalah naik bentor,
belum pernah jalan kaki, setidaknya demikian hasil pengamatan ibu-ibu. Dia juga
jarang sekali tersenyum.
“Dg Aji, kalau mauki lihatki Aci’ kelihatan giginya,
panggil mi Dg Habu” kata Mbak Jawa.
“iya kah, kenapa? Tanya Suma
“Temannya Dg Habu, senyumannya hanya untuk sahabat,
hehehe” Mbak Jawa menjawab sambil melirik ibuku.
Ibuku hanya senyum-senyum sambil manggut-manggut.
Apakah ibuku sudah mengenal Aci’ sebelumnya?
Tidak!
Setiap subuh, ibuku berjalan ke masjid melewati rumah Aci’ dan bertemu Aci’ sedang
menyiram bunga-bunga di halaman rumahnya.
Manakala mendapati Aci’ menyiram bunga, ibuku selalu
mengangguk tersenyum sambil menyapa.
“Tabe…Rajin ta siram bunga Aci’, itumi subur semua bunga-bunga ta” Sapa ibuku. Si Aci’ lalu menoleh
sembari membalas senyuman ibuku.
Hampir setiap subuh, ibuku menyapa Aci’, kadang
berkomentar tentang bunga-bunga, kadang berkomentar tentang lainnya. Mungkin
karena terlalu sering disapa itulah maka ibuku selalu mendapatkan hadiah
senyuman dari Aci’ hehehe…
Kemudian musibah menimpa lorongku, kebakaran.
Sekitar 75 rumah terbakar, termasuk rumah ibuku dan juga
rumahku. Rumah Aci’ selamat.
Kegiatan kumpul-kumpul di atas balai-balai terhenti
seketika. Ibu-ibu di lorongku sudah kehilangan gairah. Mereka sibuk menunggu
pengumuman dari toa masjid tentang pembagian sembako ataupun sumbangan lainnya.
Jika sudah ada pengumuman, mereka bergegas ke halaman masjid,
antri menanti pembagian dengan wajah muram. Hanya Aci’ yang masih setia
tersenyum kepada ibuku, demikian juga ibuku, masih setia membalas senyumannya.
Ibuku dan Aci’ seakan menjalin kedekatan tanpa
direncanakan. Kadang-kadang Aci’ singgah di depan reruntuhan rumah ibuku sambil
menyerahkan sumbangan.
“Dg Habu, ini saya kasi sedikit sumbangan, mudah-mudahan
mau menerima”
“Alhamdulillah, terima kasih Aci’. Jawab ibuku sambil
menerima sekantong telur, satu dos mi instan.
Waktu berlalu demikian cepatnya, tanpa mau menunggu
sedetikpun. Waktu tak pernah sudi menengok ke belakang, ke bawah, ke atas, ke kiri maupun ke kanan.
Waktu hanya tahu memandang ke depan dan terus melaju tanpa tedeng aling-aling.
Setahun berlalu setelah musibah kebakaran itu. Lorongku
mulai ramai lagi. Rumah-rumah yang pernah terbakar sudah mulai dibangun, rumah
ibuku juga.
Tiba-tiba menyebar berita, Aci’ mau pindah rumah. Ibuku
penasaran, Beliau menunggu Aci’ di depan rumahnya. Saat Aci’ datang seperti
biasanya di atas bentor, ibuku menyapa.
“Aci’ mau pindah rumah, pindah kemana, kenapa? Tanya
ibuku beruntun.
“Iye…tidak apa-apa ji, cuma dapat rumah di pinggir jalan
besar untuk buka toko kelontong” jawab Aci’ agak galau, semakin galau melihat
ibuku yang kedengarannya cemas.
“oooo, kukira tidak suka ki tinggal di sini” jawab ibuku sedikit tenang.
“Ah tidakji, baik-baik ji orang di sini” senyum Aci’
mengembang manis.
Waktu Aci’ mau pindah rumah, dia secara khusus berkunjung
ke rumah ibuku, dia menawarkan lemari makan bekasnya.
“Dg Habu, tidak marah jaki kalau kukasi ki lemari makan
bekas?” Tanya Aci’ hati-hati.
“Ih, tidakji, syukurka lagi karena memang tidak ada
lemari makanku, terbakar ki kasian”
jawab ibuku spontan.
“Baik, nanti kusuruh antar sama anakku ke rumah ta”.
“Terima kasih Aci’. Jawab ibuku senang.
Demikianlah pertemanan ibuku dengan Aci’. Perempuan
berdarah Tionghoa yang usianya lebih muda dari ibuku.
Benarlah kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”.
Jika berteman dengan niat ibadah maka dengan siapapun
kita berteman tidak akan ada masalah. Berbeda agama dan Ras bukan halangan
untuk bersilaturahim.
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari:
“…Beritahukanlah kepadaku tentang satu amalan yang memasukkan aku ke surga. Seseorang berkata, ”Ada
apa dia? Ada apa dia?” Rasulullah SAW berkata, ”Apakah dia ada keperluan?
Beribadahlah kamu kepada Allah jangan kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu
apapun, tegakkan shalat, tunaikan zakat, dan bersilaturahimlah.” (HR.
Bukhari).
Dalam Surat An-Nisa ayat 1, Allah telah
memerintahkan manusia untuk menjaga silaturahim (hubungan kekeluargaan).
“Wahai
manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang
diri (Adam), dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa), dan dari keduanya Allah
memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada
Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan
kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”.
Berteman atau bersilaturahim dengan
pemeluk agama lain, juga telah diatur dalam Al-Qur’an.
“Hai orang-orang tak beriman! Aku tidak menyembah
apa yang kamu sembah. Dan kamu pun tak akan menyembah apa yang aku sembah. Dan
aku tak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tak akan menyembah apa
yang kusembah. Agamamu untuk kamu dan agamaku untukku. (QS Al-Kafirun/109:1-6).
4 Komentar
Nice share :)
BalasHapusSemoga kita semua dipanjangkan umur dari silaturahim yg kita jalin. Aaamiiin...
Aamiin ya rabbal alamin
Hapusterimakasih postingannya buuu
BalasHapusbermanfaat sekali storynya ^^
kapan-kapan kita silaturrahim ya bu
Insya Allah, terima kasih
Hapus